Kambing

Inilah kekasih hati saya yang punya lesung pipi

ITB

Pendidikan Program Magister adalah kelanjutan linear Program Sarjana, atau merupakan interaksi beberapa disiplin ilmu yang terbentuk sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan atau tuntutan kebutuhan. Pendidikan Program Magister setelah Program Sarjana mempunyai beban sekurang-kurangnya 36 (tiga puluh enam) SKS dan sebanyak-banyaknya 50 (lima puluh) SKS.

Pukako Media

Pukako Media | Bali web design | Bali web development | Bali software development menyediakan jasa pembuatan website dan software untuk keperluan bisnis anda. Kami akan memberikan pelayanan terbaik untuk anda. Kami akan membantu mengenbangkan website atau software yang sesuai dengan cara kerja perusahaan anda sehingga mampu meningkatkan bisnis anda.

INDONESIA JAYA

INDONESIA WEB

NADA SHOP

Nada Shop hadir untuk memanjakan kalian para wanita pecinta shopping

Selasa, 01 Maret 2016

Perubahan


Hujan selalu menjadi hambatanku dalam melakukan aktifitas selama ini. Setiap tetes dinginnya menyakitkan dan deras banjirnya menyulitkan putaran roda kendaraan sampai merusak mesin.
Setiap mendungnya membuat keraguan melangkah keluar pintu. Aku harus siap pakaian ganti setiap menengok langit gelap yang seakan menyapu semua sinar matahari.

Tidak pernah terpikir akan merindukan hujan itu.
Inilah konyol, hujan yang biasanya kubenci jadi kurindu.

Perjalanan pulang kampung melegakan beberapa hal walau harus ditebus dengan sun burnt di punggung. Lega sudah berbaikan dengan beberapa orang, melihat usahaku mulai dihargai dan dipandang sebagai orang dewasa yang bertanggung jawab atas jalannya sendiri.
Lega melihat keluarga besar meskipun belum semuanya karena kendala kendaraan dan cuaca.
Heiii, cuaca di Bali sangat sangat cerah. Bahkan cuaca cerah itu juga kendala. Melihat matahari ternyata menakutkan.

Inilah perubahanku, inilah jalanku. Perubahan mungkin berakibat baik, namun mungkin pula ada akibat buruknya. Tapi setidaknya kita bangga dan merasa lega untuk dapat bertanggung jawab atas semua jalan yang kita pilih.



Kebersamaan berkualitas memang tidak mudah didapatkan, tidak sering waktu yang bisa diluangkan tapi memori itu bisa dibingkai rapi sampai puas. Bali-ku identik dengan pantai. Kemanapun berlari pasti ujungnya pantai. Ada sebuah pantai yang tidak ada tandingannya. Pantai Pribadi.
Meskipun tidak bisa pantai di klaim pribadi, tapi pantai itu berada di halaman belakang villa. Sore itu serasa Pulau Bali milik kita berdua.








Kenangan hari raya sepertinya jarang kudapat setelah hampir 8 tahun merantau di negeri orang. Inilah hari raya Kuningan pertama setelah perantauan itu. Lega rasanya. Semoga masih ada kesempatan lain, bertemu lagi di hari raya yang lain. Semoga aku mendapat rejeki yang baik di perantauan.

Kamis, 03 September 2015

Found LOVE


Inikah namanya cinta
Oh inikah cinta, terasa getaran dalam dada

Kalau sudah besar, ulangtahun tidak terasa terlalu spesial. Hanya hari peringatan kelahiran. Tidak lebih dari itu. Kebanyakan orang berharap terlalu banyak di hari kelahirannya, sedangkan saya pasrah saja. Hari kelahiran itu saya gunakan sebagai pengingat rasa syukur sudah diberi kehidupan dari saya pertama menghirup udara sampai berjenggot dan berkumis seperti sekarang. Saya tidak banyak permintaan aneh, karena alam semesta akan memberikan apa yang semestinya kita dapatkan sesuai dengan usaha kita.

Memang sudah lama saya sadari, usaha belum maksimal sampai muntah darah karena saya orang yang terlalu malas bekerja. Tapi saya cukup puas dan itu saja sudah membuahkan rasa bahagia.
Ada pepatah dari film animasi RIO
Happy Wife, Happy Life
Ada benarnya juga ternyata. Dengan melihat belahan jiwa tersenyum saja, sekitar terasa seperti surga. Bukan bermaksud berlebihan, tapi memang begitu rasanya. Coba aja kalau cemberut sampai berhari-hari, bakalan seperti neraka dan semua yang jadi beban hidup berlipat ganda di kepala.

Jadi teman2ku yang baik, mulai tersenyum dan beri surga bagi pasangan disampingmu. Mengenal Surga dan Neraka juga bisa saat manusia masih hidup.





Selasa, 11 Agustus 2015

Taman Vanda


Kemarau panjang tengah menerpa dunia, tapi ini serasa tidak berdampak pada Kota Bandung yang memiliki pasokan air lebih dari cukup dar resapan pegunungan yang mengitari Bandung. Salah satu yang menarik perhatian gw adalah pasokan air mancur di Taman Vanda.

Untuk membuat atraksi yang memuaskan warga, tentunya banyak sekali dana yang dikeluarkan. Namun apakah bijak bagi sebuah kota untuk menghamburkan air?
Bagi yang pernah singgah atau berada di kota Bandung, pasti sering mendengar pembangunan taman di dalam kota. Taman Vanda ini menjadi hiburan saat malam untuk berbagai kalangan, mulai orang tua, muda mudi, sampai anak kecil dapat menikmati taman gratis ini.

Mudahnya untuk menarik perhatian orang memerlukan beberapa unsur antara lain : bunga, api, air, lampu, dan suara. Taman ini memenuhi tiga unsur. 
Prinsip taman di Kota Bandung adalah bunga. Karena kota ini dikenal dengan Kota Kembang, sehingga setiap taman mesti ada bunga entah berupa bunga plastik, pot bunga besar, atau pot bunga kecil. 
Selain bunga, ada unsur air mancur dan lampu warna warni. Kita dengan mudah tertarik ke lampu berkedip atau berwarna cerah di malam hari. Benar, insting binatang kita selalu melihat sesuatu yang terang mungkin seperti serangga malam yang rindu cahaya bulan.

Penataan bunga tidak menjadi masalah disini, namun mari renungkan bersama pemakaian air dan lampu. 

Pertama asal air mancurnya, seharusnya tiap taman ada bacaan papan keterangan taman untuk mengedukasi warga akan sejarah atau kisah asal muasal taman. Tapi gw beneran curiga, apakah pemerintah kota menghamburkan air bersih layak konsumsi hanya untuk kepentingan hiburan semata disaat daerah lain mengalami kesulitan air. Atau menggunakan air kotor, dapat diingat air ini pasti disentuh anak kecil yang dapat berkibat menyebar penyakit.
Menggunakan air bersih atau kotor, 
keduanya memiliki dampak buruk. Tinggal menilai lebih buruk yang mana. Lalu pembuangan air ini sepertinya sangat sembarangan. Gw kira airnya diputar kembali lalu dimancurkan. Tapi air dibiarkan mengalir ke Jalan Merdeka. Bila menggunakan air bersih sebaiknya bijak dalam mengatur siklus air mancur.

Yang kedua adalah lampunya. Pemakaian listrik menjadi beban pemerintah menurut gw sepadan dengan rasa nikmat warga yang menikmati dan untuk cantiknya Kota Bandung. Yang menjadi perhatian gw adalah posisi beberapa lampu dan pancuran air miring terinjak anak kecil yang melewati batas pengaman.
Apakah itu sudah sesuai dengan standar keamanan?
Menghidupkan lampu tentu dengan listrik, dan listrik berteman akrab dengan air. Apabila terjadi korsleting, akan banyak korban terutama anak kecil yang memiliki rasa ingin tahu sangat besar.

Nah memang banyak manfaat keindahaan dan kenikmatan rekreasi taman gratis. Tapi semua kenikmatan ada harganya, dan pemerintah harus memperhatikan keamanan dan lingkungan lebih serius. 
Tulisan ini bukan menjelekan pemerintah Kota Bandung, tapi masukan agar jadi lebih baik.






Rabu, 17 Juni 2015

Alam Sumatera Kerinci


Alam memang menyajikan yang terbaik sekaligus terburuk. Manusia memilih mana yang paling layak untuk dapat mempertahankan hidup. Terutama lokasi tempat tinggal dan pemukiman. Kota Sungai Penuh memiliki karakter mirip dengan Kota Bandung, dikelilingi pegunungan dan dulunya bekas cekungan danau purba yang akhirnya surut karena berbgai hal.

Seminggu pekerjaan di Kota Sungai Penuh, Kabupaten Kerinci, Provinsi Jambi aku mendapat banyak pelajaran mulai dari perjalanan, geologi, tata ruang, sejarah, sampai manajemen pekerjaan yang berhubungan dengan banyak orang.

Dikatakan Kota Sungai Penuh karena termasuk Daerah Aliran Sungai Batang Hari dan terbentuk dari aktivitas sesar aktif pegunungan Bukit Barisan. Rangkaian pegunungan memanjang dan mengitari daerah Kota ini mulai dari utara sampai barat. Pegunungan ini menjadi sumber hulu bebrapa sungai yaitu Sungai Ning, Sungai Pengasah, Sungai Air Sesat, Sungai Air Sempit, Sungai Terung, Sungai Air Hitam, Sungai Batang Sangkir, Sungai Air Bungkal, Sungai Rampuh, Sungai Ulu Air Kumun, Sungai Batang Bungkal dan Sungai Batang Merao.

  



Nikmat pemandangan ini sangat berharga, namun dibayar dengan harga yang mahal. Beneran mahal.
Ini adalah jalan penghubung antara jalan kota dengan jalan nasional yang berada di perbukitan dengan sisi-sisi jurang dan tebing yang berbahaya. Rencana jalan ini terjal dan berkelok-kelok. Memang secara horizontal hanya sejah kurang lebih 1,8 km. Namun dengan kelokan tajam serta turunan dan tanjakan yang berbahaya, apalagi bahaya longsor dari tebing dan terjatuh di jurang.

Seperti yang saya bilang melewati pemandangan ini harganya mahal. Mulai dari pengerjaan jalan sampai pemeliharaan. Bahkan pengguna jalanpun harus siap akan resikonya.
Aku melakukan survey lokasi dengan berjalan kaki melewati longsor, semak, dan mendaki di punggung bukit. Sayangnya perjalanan ini tidak bisa dilakukan pagi hari untuk mencari pemandangan matahari yang lebih bagus karena ancaman binatang buas terutama harimau liar yang masih berkeliaran di area Hutan Taman Nasional Kerinci Seblat.


Memang tidak populer, namun dulu di wilayah ini juga mempunyai ukiran khas Sumatera. Seperti bangunan Masjid Agung Pondok Tinggi. Sekarang warisan ini sudah ditinggalkan dan masjid ini satu dari sedikit bangunan yang masih mempertahankan struktur lama tanpa menggunakan paku, hanya sambungan antar kayu.

Pertemanan menjadi salah satu nilai tambah perjalanan. Daerah jelajah baru dan teman baru dari berbagai latar belakang dan keahlian mendukung proses pekerjaan Master Plan Drainase.




Rabu, 03 Juni 2015

tahura juanda



Taman Hutan Raya di bandung menyelamatkan udara Kota Bandung dari polusi kendaraan. Bagi yang ingin melarikan diri dari asap motor bisa berkunjung sambil piknik bersama. Banyak lokasi menarik di sekitar Taman Hutan ini yaitu Curug Dago dan batu prasasti kerajaan Thailand, panggung terbuka, kolam PLTA Bengkok, monumen Ir. H. Djuanda dan pusat informasi (museum mini) tahura, taman bermain, Goa Jepang, Goa Belanda, Curug Lalay, Curug Omas Maribaya, Panorama Alam Hutan Raya, jogging track ke Maribaya, dan Patahan Lembang.

Tapi yang namanya hutan, pasti luas dan melelahkan kalau menyinggahi semua tempat.  Sudah beberapa kali aku ke hutan ini, kali ini hanya singgah ke taman bermain dan Goa Jepang karena tempat lain sudah sering dikunjungi. Selain itu, kita memang gak bawa persiapan untuk menjelajah hutan lebih dalam.




Goa Jepang dulunya sering digunakan untuk menyimpan amunisi dan logistik. Goa Jepang di Tahura Juanda adalah salah satu dari banyak goa yang dibuat pada masa penjajahan Jepang.
Beda dengan Goa Belanda yang umumnya digunakan untuk menahan para pemberontak. Saat itu Belanda menguasai dengan nikmat jadi tidak perlu menyimpan logistik di goa. Jepang mempersiapkan beberapa goa tambahan selain dari warisan Belanda untuk menghadapi gempuran sekutu yang datang dari Parangtritis.


Di dalamnya masih kokoh tembok 18 bungker dengan ketebalan sekitar 50cm. Bagian dalamnya ada yang masih belum selesai, dindingnya dari batu dan karang. Mungkin belum sempat dikerjakan karena tekanan perang jaman itu. Benar2 teknologi yang mengagumkan walaupun berada di bawah tanah tetap kuat, bandingkan dengan kualitas bangunan jaman sekarang. Meskipun sudah menjadi tempat wisata, aura mistis masih menyelimuti sekitar goa ini. 




Sabtu, 16 Mei 2015

Cosplayer

Cosplay memang menjadi tren tersendiri bagi pemerhati budaya entertainmen. Memang cosplay itu tidak terbatas pada costum karakter yang berasal dari Jepang, tapi entah menurut saya kalau karakter dari Indonesia yang cocok di cosplay cuman BIMA Satria itu.
Kalau lihat cosplay gatot kaca, dan sebagainya.....jadi aneh dan membingungkan. Karena kostumnya tokoh pewayangan gak ada pakem khusus, secara kan berasal dari India bukan Indonesia. Bermain kostum juga harus mengerti karakter dong. Kalau pakai kostum pewayangan otomatis harus menjiwai dan paling gak hafal seluk beluk ceritanya.

Cosplayer Indonesia masih belum mengulik kreativitasnya dan sekedar pakai baju yang mirip manga/anime/game/kartun. Beberapa cosplayer di BRAGA WALK 16 Mei yang berhasil saya foto dan hasilnya agak mendingan

KEN KANEKI - TOKYO GHOUL


KENSHIN HIMURA - SAMURAI X


SASUKE - NARUTO SHIPPUDEN


KAKASHI DAN NARUTO - NARURO SHIPPUDEN



KIRIGAYA KAZUTO - SWORD ART ONLINE



RIN - AO NO EXORCIST


Minggu, 03 Mei 2015

Curug Malela

Sebuah pengalaman menyenangkan dan melelahkan berkunjung ke Kabupaten Bandung Barat. Diantara banyak onjek wisata -dari wisata buatan manusia sampai wisata alam- kami memilih Curug Malela sebagai tempat mengukir sejarah. Curug Malela berada di Kecamatan Rongga yang setidaknya paling jauh dari Kota Bandung dan memerlukan waktu berjam-jam sampai ke lokasi.
Banyak blog dan website yang menyatakan perlu waktu 3 jam estimasi dari Cimahi menuku Curug Malela. Di dalam hati memperkirakan objek itu sekitar 3,5 jam dari rumah. Yaah hitungan itu berlaku untuk yang tau jalan..

Memang sebuah kebiasaan unik bagi gue yang selalu nyasar kemanapun perginya. Selain di Kota, kemungkinan nyasar bahkan 90%. Sebelum berangkat sudah melihat maps dari google, mudah saja dari bandara terus ke selatan arah Waduk Saguling, terus ke selatan lagi. Tapi prakteknya, cuman setengah jam perjalanan saja sudah bingung nyari arah malah muter sampai nyasar ke perumahan Marga Asih (entah dimana, bisa tembus Ciwidey) dan sampai ke daerah industri yang gak dikenal.

Nyassar tapi pemandangan bisa mengobati lelah. Di dekat daerah industri ada perbukitan tambang batu dengan beberapa danau kecil. Menuju Saguling tak disadari ternyata daerah itu cukup luas. Gue kira langsung cepat sampai karena opsi jalan terbatas memudahkan kita, tapi jalan bebatuan dan licin sekitar kebun teh di Kecamatan Gunung Halu lumayan menyulitkan. Berkali bertanya jalan jawabnya “Lurus aja bang udah bener  jalannya”.  Kami tidak berani bertanya berapa jauh atau berapa lama lagi, karena takut membuat hati jadi lemah dan malah tidak menikmati perjalanan.

Sudah lama ingin hunting foto di kebun teh, eh pucuk dicinta ulam tiba.

Si Padma sudah gatal sampai maksa foto2an dulu di kebun teh daripada foto pas pulangnya kan udah capek. Hasilnya yah lumayan dengan beberapa pohon bunga kuning (gak tau namanya) sebagai latar belakang.



Sampai di lokasi yang cuman memakan waktu 5 jam (berangat jam 9 sampai jam  2 siang). Kami disuguhi jalan tanah licin sampai jatuh membuat malu dilihat pengunjung yang istirahat di warung. Lega rasanya setelah sampai

Kami tidak tahu apa yang menanti di depan kami. Dan ternyata untuk mencapai air terjun perlu turun tangga hampir 1 km rasanya. Entah itu jarak yang bener atau berlebihan efek kelelahan. Ingin rasanya mengeluh saat menuruni anak tangga dari tanah itu, tapi ketika mendengar geburan air sedikit menghibur rasa kesal.



Dengan bantuan penjaga setempat pengunjung bisa menyebrangi sungai yang deras untuk naik ke batu besar di tengah dan mengabadikan akhir perjalanan yang sungguh membuat pantat jadi gepeng dan panas. Disana banyak juga pengunjung yang senasib, bercengkrama dengan pengunjung sangat dibutuhkan untuk memastikan rute pulang yang benar. Kami akhirnya pulang saat sudah malam, berangkat jam 5 sampai rumah hampir jam 10 malam lewat jalur Sindangkerta-Saguling-Ngamprah-Cimahi-Kota Bandung (itu seingat gue ya).









Senin, 13 April 2015

Berkeliaran


Memang awalnya hanya berniat nonton film kebut2an fast furious7 biar kekinian. Tapi semesta selalu membuat rencana sendiri yang berbeda. Daripada gagal total lebih baik kita habiskan waktu di taman Balai Kota.
Taman ini tidak pernah sepi rasanya. Ada komunitas, geng, pasangan pacaran, sampai keluarga besar datang menikmati taman gratis di Kota Bandung. Pak Walikota bener2 memperhatikan keindahan tempat kerjanya.

Pasangan kekasih bisa mengabdikan cintanya dengan menggantung gembok cinta. Seperti yang ada di negara2 romantis lain contohnya Seoul atau Paris. Sayangnya kita gak bawa2 gembok ke sana. Dan malah lupa fotoin gembok2 cinta......
Yah sudahlah, yang penting foto kemesraan gak lupa. hahahahah
Kita seperti pasangan baru jadian aja.



Bandung yang bakalan jadi tuan rumah Konfrensi Asia Afrika mulai berbenah sejak Bulan Februari. Jalan Asia Afrika dan sekitarnya disulap jadi pedestrian yang manis. Tapi memang belum selesai digarap dan debu ada dimana2. 

Banyak anak muda menghabiskan malam minggu di pinggir jalan dan trotoar yang hanya menjajakan tahu gejrot sampai malam. 

Karena penasaran apa sih asiknya berkeliaran,
Coba kita jajah kembali gedung2 tua itu sebelum hujan membasuh jalan.